Sudah lama saya ingin berkenalan dengan Olympus dan kini berkesempatan untuk menjamah E-PL3 Pen yang sempat saya bawa ke beberapa daerah salah satunya ke Pantai Papuma.

Jujur saja, tertarik menggunakan Olympus sejak Darwis Triadi menjadi duta Olympus dan kerap majang di majalah-majalah fotografi khususnya ketika berpose dengan OLYMPUS OM-D E-M5 yang kesohor ituWalau bukan jenis OMD yang saya coba, namun saya cukup puaslah bercengkrama dengan kamera E-PL3 Pen yang mungil ini.

Olympus E-pl3 pen

Ketika menggunakan Olympus e-pl3 pen. (maaf ya fotonya agak iseng dikit :)) )

Dari sisi penampakan, Olympus E-PL3 ini cukup mungil. Lebih simple dibanding kamera yang pernah saya pegang dan featurnya lumayan dan tentunya nyaman buat diajak jalan-jalan. Tinggal masukkan ke kantong mungil seperti si buluk biru yang saya punya. Beres.

Yang paling saya suka dari kamera ini adalah saya mendapatkan semacam What You See is What You Get. Jadi apa yang saya lihat di layar ketika membidik maka itulah yang akan saya dapat setelah menjepretkan kamera. Jadi, kekurangan yang ada ketika akan mengambil gambar akan diketahui sebelumnya. Selain itu kecepatan fokus yang menurut saya mirip dengan Nikon D7100 yang kini saya gunakan. Cukup cepat ketika dipasangkan dengan lensa kitnya.

Dari sisi ketajaman, dengan ditancapkan lensa kitnya 14-42mm, menurut saya cukup tajam. Saya merasa cukup membawa lensa ini untuk jalan-jalan walaupun dari sisi wide di 14mm menurut saya masih kurang karena crop factor yang 2 kali berarti berada di ukuran 28mm pada kamera fullframe. Sedangkan untuk tele yang 42mm seakan kita menggunakan 84mm pada kamera full frame. CMIIW yah cara ngitungnya. ;))

Dari sisi fungsi saya suka ada pengaturan tombol yang disesuaikan dengan keinginan kita. Seperti contoh untuk tombol red button saya fungsikan sebagai AE Lock untuk mengunci exposur dimana tombol ini saya kerap ditemui di Nikon D7100 yang biasa saya gunakan.

Picture modenya juga lumayan banyak untuk dijadikan style foto. Ada beberapa dari yang pop sampai pada yang bernuansa HDR. Semua mudah digunakan walau harus diset melalui menu terlebih dahulu.

Hanya saja, saya masih meraba-raba ketika menggunakan format RAW dengan ISO tinggi. Noisenya sudah terasa di ISO 400mm. Namun ketika menggunakan JPEG semua baik-baik saja. Semoga ada kawan-kawan yang menggunakan Olympus bisa memberikan sedikit tips untuk saya.

Kampus Unair

Unair Kampus C, ISO 200, Kec. 1/1000 pada f/3.5. Hasil konversi dan olah dari RAW ke Jpeg melalui Lightroom

ZP1190698__1391020859_139.194.172.15

Yuni lagi motret 🙂 Picture Mode HDR Effect dari Kamera (resize only) : ISO 200, 1/2000 pada f/4

Hasil foto lainnya bisa dilihat di galeri saya.

Secara keseluruhan, saya senang dengan kamera ini. Kamera simple yang siap diajak jalan-jalan dan dengan kualitas gambar yang cukup memuaskan saya. Olympus E-PL3 Pen yang mungil ini harganyapun cukup terjangkau.




January 30, 2014

Bercengkrama dengan Olympus E-PL3 Pen

Sudah lama saya ingin berkenalan dengan Olympus dan kini berkesempatan untuk menjamah E-PL3 Pen yang sempat saya bawa ke beberapa daerah salah satunya ke Pantai Papuma. […]