Mengenal Tokoh Wayang dari Buku Srikandi Ngedan
March 20, 2014
Buku Mising Religion dari Bunda Lily
May 17, 2014

[Review] Novel Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Menerima Novel Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan karya Irma Devita, ketika saya sedang melakukan perjalanan ke Jember. Saya mampir ke tempat sahabat di Panaongan untuk bertemu dengan rekan blogger. Saya menerima dari Mbak Prit, novel ini yang masih berbungkus plastik. Saya menatap dulu bolak-balik dan membaca bagian yang ada di sampul depan dan belakang. Baru membaca keseluruhan isinya setelah tiba di Surabaya. “Lumayan ada bahan untuk posting di blog yang sudah lumutan ini”, pikir saya. Terima kasih, Mbak Prit.

novel sang patriot

Baiklah Mbak Prit, segitu aja basa-basinya. Saya ikutan deh lombanya untuk Review Novel Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan.

****

Pertama kali melihat buku ini terkesan “wah”. Sekilas saja melihat sudah memberikan gambaran sebuah buku yang akan menceritakan perjuangan. Sampul yang dominan merah kuning dengan fokus saya pada seorang yang berbaju tentara tempo dulu dan memberi gambaran pada pertempuran di sebuah kota. Satu hal yang menarik adalah sosok yang membelakangi yang membuat saya bertanya (jika belum diberitahu novel ini akan menceritakan apa dan siapa) siapa gerangan yang akan menjadi tokoh sentralnya. Lebih-lebih dalam keseluruhan sampul depan, samping dan belakang tak ada satupun kata yang memberikan keterangan foto. Pengarang dan desain sampul memiliki kolaborasi yang sempurna untuk memberikan penasaran pertama kepada yang melihatnya.

Judul novel pada sampul dan nama sang pengarang ditulis dengan huruf besar nan lugas. Bertahtakan tinta emas memberikan nuansa serius yang bagi saya sedikit menggambarkan kalau novel ini bukanlah sebuah novel ngasal yang dibuat hanya bercerita mengalir. Tetapi menampilkan sebuah karya yang dibuat detil dari proses penelitian yang cukup lama dan mendalam.

Ada kalimat yang menarik dengan huruf berbentuk calligraphy  script yang mungil. Sekilas mirip dengan bentuk Masterics dari Måns Grebäck nan artistik, tapi yang di jilid novel lebih melebar. Sulit untuk dibaca oleh saya yang sudah terdeteksi presbiyopia. Namun saya yakin itulah sisi lebih sang desainer sampul. Supaya kalimat ini dapat diperhatikan dengan teliti dan dimaknai oleh pembaca di awal.  “Api dan besi tak akan menyurutkan langkahku. Derita dan luka tak akan mematahkan semangatku. Demi Bangsa ini“.

Yang mencetak buku ini ? Siapa yang tak kenal PT Gramedia, salah satu percetakan terbesar di negeri ini. Jadi tak heran jika cetakan sampul dan isi menampilkan hasil cetakan yang rapi dan presisi. Daya tarik awal untuk bergegas membaca isinya.

Saya tak melewatkan Sekapur Sirih sebelum masuk dan membaca bab demi bab. Baru kita ketahui, mungkin sosok yang membelakangi di sampul adalah seorang bernama Letkol. Mochammad Sroedji.

Dalam Prolog, baru membaca di awal, saya sudah dikagetkan oleh deskripsi kematian seseorang, “Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran musala. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau beberapa waktu lalu tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercerabut dari tempatnya … dst. (hal. 1). Ada pesan awal kalau novel ini bercerita seseorang yang gugur di medan laga. Proses pembunuhan oleh serdadu KNIL dan Belanda yang membuat miris karena dilakukan dengan cara yang sadi. Lantas saya menerka kalau kelak dalam perjalanan membaca novel ini, saya membaca sebuah cerita dari seorang tokoh hebat dalam berbagai suasana yang tidak pernah dibayangkan.

Saya lantas melanjutkan bagian demi bagian.

Biografi Letkol. Mochammad Sroedji

Sekilas ada kesan biografi berbalut novel dengan kemasan dialog yang menarik sejak dalam Senopati Kecil. Menggambarkan seorang Mochammad Sroedji yang lahir dan diberi nama. Lahir dari seorang anak pedagang sampai melalui masa kanak-kanak. Yang menarik di sisi ini adalah perdebatan tentang layak tidaknya seorang anak pedagang bersekolah dan bergaul dengan anak para priayi dan golongan Eropa, walau mungkin secerdas apapun anaknya. Masuk sekolah bagi sebagian kaum adalah perjuangan itu sendiri. Tapi di sinilah selalu ada harapan ketika kemauan bergejolak. Ada jalan jika keinginan sudah memuncak. Lebih-lebih untuk menuntut ilmu yang merupakan kewajiban.

Demikian pula ketika Mimpi Anak Pedagang dilewati, kita akan bertemu dengan sosok remaja Sroedji yang baru lulus di HIS Kediri  membantu ayahnya Hasan berdagang aneka kebutuhan rumah tangga di pasar. Pergolakan keinginan dan harapan harus melalui perdebatan sengit dengan keinginan dan harapan kedua orang tua. Ada pelajaran penting seorang Sroedji bersikap jika ada benturan yang bertolak belakang antara keinginannya dan keinginan orang tua yang memiliki perbedaan.

Salah satu yang lebih menarik adalah ketika melewati cerita bagaimana  Jatuh Cinta kepada RukminiCerita ini ada kesamaan dengan cerita orang tua  tentang sikap jatuh cinta tempo dulu. Ada rasa malu-malu.  Faktor kebetulan kadang berpihak juga dan bahkan pada hal-hal yang tidak pernah kita duga. Bahkan saya baru tahu kalau kebiasaan orang tua dulu, ada skenario tersembunyi dalam menjodohkan anak-anak mereka. Seperti halnya Sroedji dan Rukmini yang sengaja dipertemukan di sebuah pasar lantas menjadi hal yang mendebarkan ketika di pelaminan. Saya jadi ikut kaget. ;))

Dalam novel ini, kehebatan Sroedji tidak terlepas juga dari peran hebat dari istrinya itu. Rukmini yang cerdas memiliki peranan penting dalam perjuangan Mochammad Sroedji. Saya tertarik dengan salah satu paparannya, “Bukankah daidan nantinya untuk kepentingan Jepang juga pak? Menurutku, Jepang sengaja agar tidak ada koordinasi antara satu batalyon dengan batalyon lainnya. Itu taktik Jepang agar para perwira didikan mereka itu tidak menjadi ancaman. Jika ada salah satu daidancho memberontak, maka dapat dilokalisir dan dapat cepat ditangani oleh Jepang, Pak.” Rukmini teman diskusi yang menyenangkan, tempat berbagi dan memiliki ketabahan yang luar biasa. Saya trenyuh ketika Rukmini harus melakukan perjalanan jauh dari Jember sampai Kediri dalam kondisi hamil tua.

Keteladanan 

Dalam novel ini sang tokoh sentral Mochammad Sroedji adalah tokoh yang patut diteladani. Dari mulai sikap, cara bertutur, kesantunan dan jiwa kepemimpinan yang diterapkan di keluarga dan pasukannya. Lebih-lebih semangat berjuang dan membela tanah air. Disiplin dan berani.

Mengapa kalian harus takut mati dalam pertempuran ? Kalian hanya diminta memilih sati di antara dua kebaikan … bertempur lalu menang, atau mati sebagai syuhada yang oleh Allah janjikan surga“. (h.173)

Sejarah Nasional

Dari semua itu, secara keseluruhan novel ini sarat akan muatan sejarah nasional walaupun Jember dan Jawa Timur lebih dominan diceritakan ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Dalam beberapa bagian memaparkan dialog dalam penyusunan strategi peperangan yang gamblang dan mendeskripsikan pertempuran dengan seru. Beberapa terkesan sadis namun mungkin itulah yang ingin diangkat sehingga novel ini yang based on true story  terasa lebih kuat. Saya seakan diajak untuk mengingat kembali pelajaran sejarah perjuangan dulu ketika bersekolah namun kini dalam paparan yang lebih luas baik tokoh, lokasi dan suasananya. Agresi Militer I dan Peristiwa PKI Madiun adalah dua judul yang dulu kerap saya dengar dan baca dalam pelajaran sejarah perjuangan bangsa. Kini diulas dalam novel ini secara luas, detil dan lugas.

Alur dan Cerita

Walaupun berisikan sarat dengan perjuangan dan pertempuran, Novel ini juga penuh dengan suasana yang mengharukan yang membuat kita ikut hanyut di dalamnya. Emosi ikut terpancing manakala sebuah kondisi yang sudah ada dipikiran kita lantas nyata-nyata tidak sejalan dengan alur cerita yang disuguhkan kemudian. Salah satunya saya menemukannya di halaman 133, kala Rukmini akan melahirkan. Top.

Di lain sisi, ada beberapa yang membuat kita miris dan ngeri karena beberapa adegan yang sadis diceritakan dengan detil. Demikian pula banyak cerita yang membuat kita terharu namun di lain bagian banyak pula yang membuat kita berbunga-bunga ketika ada kemenangan sudah berpihak. Secara sadar saya sempat mengatakan, “Yes!!!“, ketika  Gubernur Suryo mengakatakan, ” … Kita lebih baik hancur daripada kembali dijajah … Rakyat Surabaya menolak ultimatum Inggeris!”

Alur cerita novel sebanyak 280 halaman ini mengalir dan nyaman dibaca walau membuat emosi  turun naik. Campur aduk. Mbak Irma pandai sekali meneropong calon pembaca supaya hanyut dalam setiap episode cerita.

Di sisi lain, walau banyak istilah asing yang diambil dari bahasa Inggeris, Belanda, Jepang dan Bahasa Jawa, namun semuanya masih dianggap wajar. Lebih-lebih di akhir buku dilampirkan daftar istilah yang menjelaskan kata asing tadi dengan cukup lengkap.

Di akhir novel, saya teringat lagi kata-kata di awal yang membuat getir, “”Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran musala. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau beberapa waktu lalu tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercerabut dari tempatnya …

Artikel ini disertakan dalam Lomba Review Novel Sang Patriot.

 

Fix

0 Comments

  1. Sebuah kisah cerita perjalanan perjuangan yang cukup panjang, dan dapat menambah ilmu pengetahuan kita, khususnya bagi generasi bangsa Indonesia ini sebagai penambah wasan pengetahuannya ya Kang.

    Salam

    ————-

    Yups, betul pak .. setuju.
    Terima kasih
    🙂

  2. Lidya says:

    fotonya keren kang yayat. Smeoga menang ya review novelnya

    ———–

    ;))
    Aamiin

  3. rodamemn says:

    wah banyak sekali manfaat membaca novel ini ya 🙂

  4. Semoga berjaya dalam eventnya Mbk Irma ya mas.

  5. bunda lily says:

    WOW ….!!!
    hebatnya kayak gini nih, kalau pakar yang membahas sebuah buku…
    bener2 lengkap kap dan mantaf taff taff…. 🙂

    Semoga sukses di GA nya Mbak Irma ya Kang …. 🙂

    salam hangat utk keluarga di Ploso
    Semoga selalu sehat ….

    salam

  6. Sukses membawah emosi lho buku ini…

  7. yuniarinukti says:

    Selamaat blognya sudah tak berlumut he he..
    Kang perkiraan kita ternyata sama. Sejak pertama melihat covernya pandangan saya langsung tertarik pada Goresan tinta emas pada judul. Setuju kalau dibilang novel Sang Patriot bukanlah novel biasa-biasa.
    Wih reviewnya Kang Yayat mantab jaya. Lengkap pula! Semoga dapat smartphone ya Kang 😉

  8. RZ Hakim says:

    Kang Yayat, terima kasih atas partisipasinya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *